Pemoeda
Mari bertanya
Jujur, mari lagi kita bertanya..
Dengan apa akan kita bangun kembali kesadaran...
Yang sudah tidak teringat, dan bahkan sudah tak dikenali...
Akibat kehilafan besar yang disusun rapi segelintir orang...
Untuk kemegahan dan untuk…
Sekali lagi hanya untuk …
Dengan apa dan dimana kesadaran akan kita temukan...
Yang sudah terkubur, tertelan oleh darah oleh luka...
Terjerumus dalam, dalam sekali...
Sampai tidak bisa diingat, sampai tak bisa dikenal...
Mencuci kepala, membelok sejarah...
Jika perlu, tanyakan satu-persatu...
Pada tiap kepala, pada jiwa...
Bagi yang pernah mengeluarkan darah...
Yang luka, dan merana...
Dan kini ada di dasar tanah,
Tinggal tulang, tinggal…
Hanya menyisakan kekosongan...
Entah kini ada dimana mereka...
Apa gerangan yang pernah kau harapkan...
Seberapa arti darah, air mata dan keringat yang pernah terkucurkan...
Untuk satu kata Indonesia...
Detak jantung, desah nafas, ratap jiwa dan amuk marah...
Mereka yang pernah terkapar dan dilupakan...
Oleh kalian si penunggang dan pecundang sejarah...
Tetap akan menyeruak masuk dalam tidur, dalam ingatan...
Menjadi mimpi yang menakutkan...
Yang datang tanpa diundang...
Dan sewaktu-waktu bisa mematikan...
Bangsa ini bangsa besar...
Mari mulai cita-cita kemanusian dari sini...
Bangsa ini bangsa melimpah...
Seluruh kehidupan bisa hidup disini...
Di atas tanah, di atas air dan di atas udara...
Dengan keiklasan dengan kebijaksanaan...
Sirami kehidupan...
Mari, aku, kau dan yang lainnya, mari kita bicara...
Selagi masih ada yang bisa kita katakan...
Hargai hidup, cintai kemanusiaan...
Bagi jiwa dan dari jiwa yang mengharap...
Menerawang, merangkak, membelah sunyi malam...
Membuka kunci kebisuan kelam...
Dengan keiklasan, dengan kebijaksanaan...
Bersama mereka yang terkubur...
Mereka yang terkapar...
Mereka yang merana dan mereka yang terlupakan...
Membangun, merangkum untuk menemukan...
Urutan waktu budaya yang telah hilang melayang...
Bersama-sama yang masih berkenan...
Kembalikan kesadaran sejarah yang pernah ditidurkan...
Merdeka di atas tanah, merdeka di atas air dan merdeka di atas udara...
Bercita untuk peradaban besar nan luhur...
Karena disitulah letak kebajikan perjuangaan kemanusiaaan-kerakyatan...
Para PEMUDA!!!...
Dari; yang sepi dan bahkan dikhiyanati
Hikmat yang singkat
Senyum dan matamu seindah purnama
Semerdu tembang nyanyian kehidupan
Kau bawa damai, berikan harapan
Sesuatu yang tak pernah ditemukan
Datang menyelimuti dan mengaliri
Kebekuan dalam hati, dalam darah
Bagai mayat lama terkulai
Teridur tanpa harapan, tanpa pegangan
Seperti para pemimpi yang hanyut
Dalam angan, dalam buai
Terkulai, terbuai tanpa ujung
Kau ajari aku akan cinta
Tentang keiklasan tentang ketulusan
Kehadiranmu berikan aku pedoman
Apa arti menghormati dan apa arti menghargai
Tapi, dimana kamu sekarang
Tidak terlihat mata
Tapi, masih terbayangkan, dapat dirasakan
Begitu kuat, sangat dekat
Selagi mengharap, mencoba taat
Bangun dari yang merana
Tak pernah terpikirkan
Begitu singkat
Hanya sekejab
Hanya jingga yang tersisa
Kalau matahari meninggalkan siang
Begitupun hati sepi yang berteriak
Mengembara mencari rumah untuk singgah
Beri kesempatan pada sang kumbang
Untuk menyegarkan mawar yang telah jatuh ke tanah
Dari; yang sepi dan bahkan dkhiyanati
Puisi kejujuran
Dengan puisi, jujur hati terkuak
Mana lemah mana kuat
Hati yang terpuisikan
Mana harapan mana kedukaan
Walau lemah begitu jatuh
Ingin sembunyi tak bisa lari
Meratap pada terang
Mengobati luka yang bernanah
Seratus mimpi sudah terlewati
Tak satu sampai lima yang terpenuhi
Seribu janji sudah terpatri
Hanya berbunyi dalam ruang sunyi
Dengan puisi, jujur hati terkuak
Mana lemah mana kuat
Hati yang terpuisikan
Mana harapan mana kedukaan
Bila masih ada terang
Itu pasti tergambar harapan
Jikalau embun masih menetes
Takan surut air kehidupan
Mari kamu yang jujur terhadap puisi
Mari kita menari
Puisi-puisi yang hadir dari hati murni
Akan menabuh genderang kemenangan hati
Dari; yang sepi yang menari
Begitu dalam ku lihat luka
Yang lahir dari ketaksadaran
Orang menari diatas duka
Bercengkrama penuh kebebalan
Dikutip dari Arsip Front Perjuangan Pemuda Indonesia




0 komentar:
Posting Komentar